Mustika ini sudah lama saya simpen sebagai koleksi benda Bertuah Nusantara.Mustika ini dulu saya dapatkan dari guru saya yang tinggal di Girisekar Gunung Kidul. Asal Usul Mustika ini beliau dapatkan dari Sendang Talangwarih yang berada di kompleks Makam Ki ageng giring, Tepat sebelum masuk ke Padepokan Giring.
Sepasang Mustika ini sebenar sudah sangat lama beliau dapatkan,Menurut beliau, Mustika ini beliau dapatkan tengah malam pas malam jumat kliwon di bulan suro sekitar tahun 1980 an, Saya dapatkan dari beliau tahun 2022
Berfungsi sebagai sarana piandel atau pegangan batin, di mana mustika ini sejak dulu diandalkan oleh para leluhur Jawa sebagai sarana penguat mental dan ketenangan jiwa dalam menghadapi berbagai babak kehidupan yang penuh ujian.
Menjadi perisai gaib atau pagar benter penolak bala, yang diyakini mampu membentengi diri pemiliknya dari berbagai macam ancaman energi negatif, niat buruk sesama, hingga kiriman ilmu hitam seperti teluh, santet, dan sawan.
Menyandang reputasi legendaris sebagai sarana kekebalan tubuh darurat, merujuk pada cerita rakyat klasik di mana pemiliknya konon memiliki ketahanan fisik luar biasa terhadap sayatan senjata tajam dalam situasi genting yang mengancam nyawa.
Memancarkan aura wibawa kasepuhan tingkat tinggi, yang dipercaya membuat pemiliknya memiliki daya pikat kepemimpinan yang kuat, sehingga perkataannya lebih didengar, disegani, dan dihormati oleh masyarakat luas maupun bawahannya.
Bertindak sebagai magnet penarik rezeki dan kemakmuran, di mana dalam tradisi kejawen tertentu, energi dari batu bertuah ini dipercaya selaras dengan frekuensi kelimpahan sehingga mempermudah jalannya urusan perdagangan dan pencarian sandang-pangan.
Menjadi sarana pengasihan umum (pasi'an), yang konon mampu melunakkan hati orang lain, memudahkan proses negosiasi, serta menciptakan keharmonisan dalam pergaulan sosial maupun hubungan antar-keluarga.
Membantu meredam gejolak emosi dan menstabilkan batin, karena warna merah delima yang pekat sering diasosiasikan dengan simbol keteguhan hati, melatih pemiliknya agar tidak mudah terpancing amarah saat menghadapi masalah rumit.
Dipercaya mampu mendongkrak vitalitas dan ketahanan fisik, yang dalam pemahaman tradisional dianggap sebagai penyalur energi chi atau prana alami untuk membantu tubuh agar tidak mudah merasa lelah dalam bekerja keras.
Berperan sebagai pembuka jalan keberuntungan (hoki) dalam perantauan, di mana orang-orang jaman dulu kerap membawanya saat merantau jauh ke tanah seberang agar senantiasa dilindungi dan diberi kemudahan dalam mencari penghidupan.
Menjadi pelindung tempat tinggal dari gangguan makhluk halus, di mana batu ini sering kali ditaruh atau dipendam di sekitar rumah oleh sebagian orang tradisional untuk mengusir energi usil dari bangsa jin atau makhluk astral yang berniat merusak keharmonisan rumah tangga.
Memperkuat intuisi batin dan kepekaan spiritual (rasa sejati), di mana laku merawat pusaka di masa lalu sering digunakan sebagai sarana melatih kejernihan pikiran agar lebih peka terhadap firasat atau tanda-tanda alam yang akan terjadi.
Catatan Bijak Tradisional: Dalam filosofi Jawa, segala bentuk pusaka atau jimat pada hakikatnya hanyalah sebuah lantaran (sarana fisik). Kekuatan sejati, keselamatan, rezeki, dan kemuliaan hidup mutlak berasal dari Gusti Allah Yang Maha Kuasa, sementara manusia diwajibkan untuk senantiasa mawas diri dan berbuat kebajikan.
- Semua manfaat akan anda rasakan sebagai ihktiar secara bathiniyah yang tentunya juga di imbangi dengan usaha secara lahiriyah,Dengan demikan anda akan mendapatkan keajaiban dalam hidup anda.
- Keunikan Mustika ini kadang bisa membias dalam air,kadang kenyal,Kadang mengeluarkan bau yang sangat harum


